MOROWALI

[morowali][bsummary]

GALERI

[galeri][bigposts]

BERITA

[galeri][twocolumns]

Menyoal Pemanfaatan Penyu Di Morowali ( Oleh Yasher Sakita )._3 Maret 2017.




Menyoal Pemanfaatan Penyu Di Morowali ( Oleh Yasher Sakita ).
Dalam potingan pemuda berdarah Bungku tepatnya desa Sakita ini menyampaiakan, Ikut prihatin soal pemanfaatan penyu di Kabupaten Morowali. Beberapa kasus yang mungkin masih segar dalam ingatan adalah kasus penyitaan 70 ekor penyu di Pulau Padei Laut (Kecamatan Menui Kepulauan) yang dilakukan oleh Satker PSDKP Kendari, April 2016 silam. Di susul kemudian kasus penyitaan 20 ekor Penyu di Desa Bahomohoni yang juga dilakukan oleh PSDKP Kab. Morowali bulan November 2016. Turut hadir pula ketika itu Daeng Asho sebagai perwakilan dari Bpspl Makassar di acara pelepasliaran bersama Bupati Morowali (Anwar Hafid), masyarakat Bahomohoni dan beberapa dinas terkait. Juga beberapa video pelepasan 4 ekor penyu yang dilakukakan teman-teman Sdc Morowali.
            Kasus pemanfaatan lainnya adalah masih sering di temukan via "mendsos" beberapa orang yang sengaja mengupload foto-foto pemotongan penyu untuk dikonsumsi. 29 Januari 2017, dari facebook @Andri andri, seekor penyu sisik dipotong “Buat pake Pontolola Minuman”. Dua minggu lalu, saya mendapat kiriman via line gambar 3 ekor penyu sisik di tampung di salah satu rumah warga di Koburu (Desa Laro’ue). Dan hari ini, kembali ditemukan kasus pemotongan penyu dari beranda facebook bernama @Ruus.
Apa yang harus dilakukan?
Tentu saja yang pertama mulai dari diri sendiri, dengan tidak menjadi salah satu dari para “pemangsa” reptil laut terancam punah ini. sekedar info juga, biar bisa lebih mengenal penyu, Kementerian Kelautan Dan Perikanan (KKP) sudah menerbitkan Buku Pedoman Teknis Pengelolaan Konservasi Penyu. Terbit tahun 2009. Ada juga Buku pedoman Umum Penanganan Hasil Tangkapan Sampingan (By Catch) Penyu pada kegiatan penangkapan ikan, terbit tahun 2015. Juga yang terakhir adalah Buku RAN (Rencana Aksi Nasional) Konservasi Penyu Periode 2016-2020, terbit tahun 2016. Segala “tetebenge” terkait pengelolaan penyu sudah lengkap di dalamnya. Tinggal di download saja dari “om google”.
Kedua, edukasi dan penyadartahuan terhadap masyarakat, harus dicanangkan dan dilakukan untuk tidak lagi menangkap, mengambil telur, mengkonsumsi dan memanfaatkan derivat-derivat penyu sebagai pernak-pernik hiasan. Baik melalui Bimtek, pembinaan langsung, maupun sosialisasi. Tentu saja dengan melibatkan berbagai stakeholder terkait yang ada di Morowali. semakin banyak instansi yang terlibat dan peduli, semakin bagus.
Ketiga, penegakkan hukum (law enforcement) yang efektif sebagai pemicu “efek jerah” bagi para pelaku yang masih masih bandel. Ya, jika tidak bisa dibina, dibinasakan. Dimulai dari penangkap, pengumpul/penada maupun pembeli (konsumen). Termasuk didalamnya para pengrajin pernak-pernik (aksesoris) berbahan dasar cangkang penyu. Semuanya harus ditindak tegas.
Keempat, mendorong Pemda Morowali membuat regulasi (Perda) penetapan Kawasan konservasi yang didalamnya memuat zona pantai peneluran penyu seperti yang sudah dilakukan beberapa daerah di Indonesia seperti Raja Ampat dan Sukabumi. Hal ini tentunya akan sejalan dengan pencanangan Sombori sebagai “Kawasan Konservasi Perairan Daerah” yang juga menjadikan Penyu sebagai salah satu icon bawah lautnya.
Keenam, mendorong keterlibatan masyarakat baik melalui kelompok pemerhati penyu maupun POKMASWAS untuk ikut ambil bagian dalam menjaga dan melestarikan penyu di Kabupaten Morowali. Khususnya yang ada di sekitar Kecamatan Menui Kepulauan dan Bungku Selatan. Karena, dari beberapa info yang saya dapatkan, dibeberapa pulau yang ada di dua kecamatan ini, masih terdapat pembeli sekaligus penampung sebelum penyu tersebut terdistribusi ke beberapa tempat seperti, Kendari, Koburu, Pongkoelu, Bahomohoni dll.
Ketujuh, Jika dimungkinkan, dibuatkan Pusat Pembelajaran Penyu melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) Perusahan Tambang yang “menjamur” itu. Libatkan masyarakat lokal sebagai pengelola. Rangkul LSM dan akademisi sebagai pendamping. Identifikasi pantai peneluran, buat penangkaran, bak penetasan, bak pembesaran dll. Disamping jadi pusat edukasi, Pusat Pembelajaran Penyu ini juga bisa menjadi mata pencaharian alternatif bagi kelompok pengelola jika ada yang berminat melepaskan tukik. Seperti yang dilakukan teman-teman di Turttle Conservation and Education Centre (TCEC) Pulau Sarangan Bali.
Terakhir, siapapun kita, dapat berpartisipasi dalam menjaga kelestarian penyu di Kabupaten Morowali. Tentunya saran-saran diatas tak semudah membalik telapak tangan. Semua butuh proses, waktu, tenaga dan dukungan finansial. Jikalaupun Anda merasa belum bisa ikut ambil bagian dari saran dua sampai tujuh, saya sarankan anda kembali ke “pasal” pertama; dengan tidak menjadi salah satu dari para “pemangsa” reptil laut terancam punah ini. Simple kan?
 Itulah tuturan tulisan tentang persoalan Pemnfaatan Penyu Di Morowali ini, oleh kakanda yang bernama lengkap Muh Yasir ini.
Dalam postingan di facebook ini mendapat komentar - komentar positif dari para nitizen Morowali sampai Bupati Morowali ikut memberikan komentar sebagai berikut :
"Trimakasih dinda yaser pemda saat ini menggalakan dua kegiatan sehubungan dengan pelestarian penyu pertama aktif melakukan pemgawasan dengan menugaskan langsung kades camat dan unsur tripika melakukan pengawasan dan alhamdulillah mulai menampakannhasil.dua hari lalu pak camat menui menyelamatkan satu ekornpenyu besar yg baru saja dibtangkat masyarakat saat sedang bertelur.langkah kedua saat ini dengan merekrut satgas pengawas pantai kl sekitar 200 orang yg bertugas melakukan pengawasan terhadap aktifitas pencurian penyu.insya Allah saran soal perda segera di tindak lanjuti sukses dinda"
#DariAnda #SupportKKP
NB: Foto dari berbagai sumber di FB


Ct _ yasher sakita

No comments:

Post a Comment