MOROWALI

[morowali][bsummary]

GALERI

[galeri][bigposts]

BERITA

[galeri][twocolumns]

Masih Ingat Dengan Sejarah Masjid Tua Bungku.? (siebitarasejarah)




Jika anda berniat melakukan ziarah spiritual bernuansa religi, sambil menyelami kehidupan Islami dan kejayaan masa lampau kerajaan Bungku, melihat lebih dekat keindahan mahakarya arsitektur Mesjid yang begitu masyhur pada masanya. Maka luangkanlah waktu anda untuk mengunjungi Masjid Tua Bungku yang di terletak di kelurahan Marsaoleh, Bungku kota, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, berdampingan dengan istana raja Bungku yang masih berdiri dengan kokoh sampai saat ini. Lokasinya berjarak sekitar 70 meter dari dermaga Bungku. Situs bersejarah ini merupakan warisan yang tak ternilai harganya, dan menjadi saksi bisu kebesaran dan kejayaan kerajaan Bungku masa silam.

Berdasarkan catatan sejarah yang ada, masjid ini di bangun pada saat raja Bungku Sangiang Kinambuka berkuasa. Di bangun oleh masyarakat yang berdomisili di sekitar benteng kerajaan(bahontobungku). Sejarah berdirinya Masjid Tua Bungku, mulanya, ketika seorang musafir dari tanah Johor semenanjung Malaya ( Malaysia-red) Syaikh Maulana Ibrahim Sampai di tanah Bungku sekitar tahun 1470-an, dalam pengembaraannya menyebarkan Islam, takdir kemudian mempertemukannya dengan dua tokoh kerajaan Bungku, di puncak bukit Fafon Sandengaa. Dari sinilah, mereka kemudian bersepakat untuk menyebarkan Agama Islam di tanah Bungku. Penyebaran Islam dikemudian hari menjadi mudah, Sangiang Kinambuka (Raja Bungku) menerima dakwah ini dan menjadi pemeluk Islam yang taat, dan di ikuti oleh masyarakatnya yang berdiam di sekitar benteng kerajaan serta merta memeluk Islam.

Pada perkembangannya, masjid tua kemudian di renovasi dan di perluas, atas perintah raja Bungku ke VII, Muhammad Baba (peapua le fifi rombia) pada 1835 M. Kemudian memindahkannya ke lokasi yang lebih strategis dekat pelabuhan laut. Jadilah masjid baru ini sebagai masjid kedua. Material masjid di pindahkan dari situs benteng ke lokasi yang sekarang (Marsaoleh). Renovasi masjid memakan waktu selama setahun dan dikerjakan secara gotong royong oleh masyarakat Bungku. Merodo adalah Arsitek yang mendapat kepercayaan untuk merenovasinya, ia dikenal sebagai Sangaji Tuka, seorang tukang kayu dari One Ete, berdarah bangsawan kesultanan Ternate. Tahun 1836 Masjid ini berdiri dengan megah setelah di renovasi. Yang menakjubkan, pada beberapa struktur bangunan ini, melambangkan nilai-nilai Islam yang kental. Diantaranya menara yang berdiri 25 meter dari permukaan tanah, dikenal sebagai menara alif yang berarti tauhid (keesaan) Allah, sumber sejarah menceritakan dulunya menara alif ini terpasang simbol bulan bintang. Atapnya yang bersusun lima memilki makna Rukun Islam. Luas bangunan mencapai 20x13 meter, masjid ini mampu menampung seratus lebih jamaah. Konon, tegel (lantai) yang digunakan saat itu dikirim dari singapura, dindingnya terbuat dari beton terdiri dari susunan batu kapur,yang direkatkan dengan menggunakan putih telur dan getah kayu waru dan bahan-bahan lainnya. Disebelah situs ini juga terdapat peninggalan sejarah lainnya yaitu Situs Rumah Raja, dan Makam Raja BungkuSekilas bangunan ini mengikuti arsitektur masjid yang populer di masa itu, mirip model dengan masjid tua kesultanan demak, masjid tua kesultanan Buton dan ternate. 
Pada tahun 1936 -1937 atas inisiatif raja Bungku ke XII areal masjid ini perluas lagi. Masjid ini dipimpin seorang kale yang berarti Imam besar. Keaslian masjid tua Bungku sekarang masih banyak yang dipertahankan,termasuk kombinasi warna kuning dan hijau, baik pada kayu maupun pewarnaan pada terali besi dan ornamen-ornamen lainnya. Atap masjid tua menggunakan daun sagu (ato rombia), sekarang di ganti dengan atap seng, setelah di renovasi. Mimbar khatib yang ada sekarang adalah peninggalan asli dari situs pertama masjid yang ada di benteng Bahontobungku. Di tahun 1972 masjid tua yang diberi nama Baiturrahim sudah tak di fungsikan, karena konstruksinya dianggap tidak aman untuk di tempati beribadah. Masyarakat setempat lalu bermufakat untuk membangun masjid baru bernama Baiturrahman, yang sekarang menjadi Masjid Raya kec. Bungku Tengah. Sejak itu masjid bersejarah ini hanya menjadi bangunan tua yang terabaikan. Pada Tahun 1992-1994 Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Sejarah dan Purbakala pada Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melakukan Pemugaran menyeluruh untuk menjaga keutuhan

Setelah dilakukan pemugaran, Masjid Tua baiturrahim kembali diramaikan para jamaah. Pada hari-hari tertentu, seperti jumat, masjid di sesaki oleh jamaah yang membludak. Membludaknya jamaah ini seiring dengan bertambahnya penduduk di sekitar Bungku yang berasal dari luar daerah Morowali. Sebagai jalan keluar dari keadaan ini, untuk mengantisipasi membludaknya jamaah masjid tua, pengurus masjid lalu memutuskan untuk memperluas dan menambah bangunan beranda di depan situs masjid yang dilindungi ini. Perluasan dan penambahan masjid itu, membuat sumur dan bak penampungan yang menjadi bagian menyatu dengan cagar budaya ini telah berubah bentuk menjadi tempat wudhu dan toilet seperti yang terlihat sekarang ini.

Pada 1992 pemerintah menetapkan Situs Masjid Tua ini sebagai cagar budaya yang dilindungi Undang-undang No 5 tahun 1992, ancaman hukuman bagi yang merubah bentuk, memindahkan atau merusak cagar ini sangat berat, diancam kurungan badan 10 tahun dan denda 100 juta rupiah (Pasal 15 UU No 5 1992). Keputusan untuk menambah dan berakibat perubahan sebagian bentuk (bagian depan halaman) dari situs ini terpaksa di ambil oleh pengurus masjid, demi kenyamanan para jamaah yang shalat di masjid ini, rencananya masjid ini akan tetap digunakan walaupun masjid raya baru telah selesai pembangunannya.



Sumber_ humas Daerah Morowali

No comments:

Post a Comment