MOROWALI

[morowali][bsummary]

GALERI

[galeri][bigposts]

BERITA

[galeri][twocolumns]

Berdasarkan Bukti Sejarah Dan Survei Ternyata Desa Sakita, Kecamatan Bungku Tengah, Kabupaten Morowali Terdapat Benteng Fafolobani Yang Merupakan Salah Satu Cagar Budaya Yang Terlupakan ( ct_Yasir Sakita )



                                                Gambar : survei 21 agustus 2013_yasir sakita


Desa sakita termasuk salah satu perkampungan tua di Bungku. Bukti sejarah banyak ditinggalkan di Desa ini. Beberapa puing-puing benteng yang masih ada seperti benteng Fafo mpe’apua, benteng Fafo lobani dan bahkan masyarakat setempat meyakini di Fafo nselatoterdapat kuburan Raja Fo’oli sebagai salah seorang yang dihormati di masa itu. Keberadaan benteng Fafolobani di Desa ini dapat menjadi daya tarik wisata khususnya bagi wisatawan yang terarik dengan sejarah Bungku. Lokasi benteng ini terletak jauh dari pemukiman penduduk (Hutan pegunungan). Untuk bisa mencapai benteng ini, pengunjung diharuskan berjalan kaki menyusuri hutan pegunungan kurang lebih 4-5 jam dari Desa Sakita. Jika merujuk pada berbagai sumber data, informasi tentang keberadaan benteng Fafolobani hampir dipastikan tidak ada. Boleh dibilang Benteng Fafolobani adalah salah satu situs cagar budaya yang terlupakan. Bahkan Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Morowali Nomor 10 Tahun 2012, hanya terdapat 3 (tiga) kawasan cagar budaya yang diakui yaitu;  Kawasan cagar budaya mesjid tua Bungku, Kawasan cagar budaya raja Mori dan  Kawasan cagar budaya benteng fafontofure (Pasal 20 ayat 5). Pada hal, Benteng Fafolobani memiliki hubungan erat dengan benteng Fafontofure yang ada di Desa Bahotobungku.

Hasil survei yang dilakukan Forum Mahasiswa Sakita (Formasi-Makassar) pada bulan Agustus 2013, kondisi benteng Fafolobani sangat memprihatinkan. Hampir seluruh dinding dari benteng ini telah terbongkar akibat tertimpa pohon dan hantaman akar-akar pohon yang masih hidup. Bahkan dibeberapa sisi benteng, kodisinya rusak parah. Sangat disayangkan jika situ sejarah ini diabaikan begitu saja tanpa upaya pelestarian yang serius dari berbagai pihak terkait. Dalam aspek pariwisata, hutan yang terdapat disepanjang jalur menuju lokasi benteng dapat dimanfaatkan untuk kegiatan Tracking dan Hiking. Sebab, tidak menutup kemungkinan kedepannya akan banyak wisatawan yang suka berwisata petualang (adventure). Rute jalur yang ditawarkan dapat dimulai dari kampung menyusuri jalan setapak menuju air terjun mempueno. Dari situ, pengunjung akan diarahkan melewati perkebunan penduduk lokal, menyusuri hutan dan sungai sebelum mencapai puncak (lokasi benteng). Kegiatan ini tentunya dapat menjadi salah satu daya tarik wisata yang bisa dikembangkan di Desa Sakita.
Harus diakui bahwa potensi wisata di Desa Sakita belum termanfaatkan dengan baik. Hingga saat ini, belum ada upaya yang serius baik dari pemerintah maupun masyarakat setempat untuk mengembangkan potensi pariwisata di Desa ini. Sebut saja misalnya permandian Tompa Ika yang sering dikunjungi masyarakat sekarang ini. Komponen wisata seperti lembaga pengelola resmi, atraksi wisata, fasilitas wisata, transportasi kelokasi, promosi wisata dll, sama sekali masih jauh dari harapan. Padahal kompen-komponen wisata tersebut merupakan dasar utama dalam pengembangan pariwisata. Ditambah lagi kesadaran Masyarakat lokal dan pengunjung akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan masih sangat rendah.
Minimal, terdapat Tiga permasalahan utama menyebabkan lambannya pengembangan kegiatan wisata di Desa Sakita. Pertama, Aspek perencanaan yang belum matang berupa kebijakan pemerintah belum berjalan sebagaimana mestinya, koordinasi antar sektor tidak efektif, dan tata ruang pembangunan tidak mendukung pengelolaan objek wisata di Desa Sakita. Termasuk dalam hal ini seperti aspek kelembagaan, aspek hukum, aspek pengelolaan pengunjung dan penyediaan fasilitas pelayanan dan rekreasi yang memadai.  Kedua, aspek pelestarian lingkungan dan nilai budaya yang tergolong masih rendah seperti penebangan hutan di Daerah Aliran Sungai dan benteng yang dapat merusak nilai estetika dan kealamiahan objek wisata tersebut. Ketiga, keterlibatan masyarakat local sangat rendah yang menyebabkan kontribusi terhadap peningkatan ekonomi masyarakat setempat  juga sangat kurang.



sumber tulisan _ http/anakkampungmorowali_yasir sakita












No comments:

Post a Comment