MOROWALI

[morowali][bsummary]

GALERI

[galeri][bigposts]

BERITA

[galeri][twocolumns]

MELIRIK POTENSI WISATA DESA SAKITA


MELIRIK POTENSI WISATA DESA SAKITA


Oleh : Yasher Sakita
Desa Sakita termasuk salah satu desa di Kabupaten Morowali yang memiliki bentang alam yang eksotis. Karakteristik alamnya merupakan perpaduan dari landscape pegunungan dan lembah yang masih alami. Pemandangan alam gunung, lembah, air terjun, hutan, sungai dan goa-goa batu merupakan Sumber Daya Alam yang memiliki potensi besar untuk area wisata alam di Desa ini. Bukan hanya alamnya mempesona, dipandang dari aspek sejarah, Desa ini juga memiliki history yang menarik dengan adanya puing-puing benteng (Falolobani) dan cerita rakyat Rampea Sina (Air Terjun Mempueno) yang memiliki keterkaitan dengan history Mateantina yang terdapat di Desa Kolono (Bungku Pesisir).  Perpaduan pesona alam yang indah dan seluk beluk sejarah yang berakar pada budaya lokal setempat menjadi aset besar untuk pengembangan wisata di Desa ini.
Gambar
Gambar 1. Melihat Keindahan Kota Bungku dari Desa Sakita
Melirik potensi yang yang dimiliki Desa Sakita, maka dapat diproyeksikan kedepannya bahwa Desa ini dapat menjadi salah satu Daerah Tujuan Wisata (DTW) andalan di Kabupaten Morowali. Minimal terdapat 4 empat hal yang menjadikan Desa Sakita dicadangkan menjadi Daerah Tujuan Wisata yaitu : (1) terletak pada posisi strategis yang dapat terjangkau dengan mudah dari ibu kota Kabupaten yaitu ±1,5 km (2) memiliki dua badan sungai yang keduanya bisa dijadikan objek wisata (Mempueno dan Tompa Ika); (3) terdapat beberapa sumber daya tarik alam berupa air terjun mempueno, keindahan alam, hamparan perkebunan masyarakat, pegunungan terjal dan goa-goa batu; (4) terdapat puing-puing benteng Fafolobani.
Beberapa Potensi wisata yang dimiliki Desa Sakita yaitu :
HUTAN PEGUNUNGAN
Dalam aspek pariwisata, hutan yang terdapat di pegunungan desa Sakita, dapat dimanfaatkan untuk kegiatan Tracking dan HikingTracking merupakan kegiatan menjelajahi hutan melalui jalan setapak dengan jalur-jalur traking yang telah dirintis. Rute jalur yang ditawarkan dapat dimulai dari kampung menyusuri jalan setapak menuju air terjun mempueno. Dari situ pengunjung akan diarahkan ke perkebunan coklat dan cengkeh masyarakat desa sakita (Luria Masigi) menuju benteng fafolobani. Sedangkan untuk jalur yang lebih menantang,  pengunjung dapat diarahkan ke pegunungan Fafompe’apua yang juga memiliki hubungan erat denga situs benteng Fafolobani.
IMG_0845
Gambar 2. Landscape Pegunungan desa Sakita dengan hutan pegunungan yang masih alami
IMG_0727
Gambar 3. Jalur Tracking menuju benteng Fafo Lobani (Lokasi : Lolama Fatu Pute)
Melihat kondisi di atas, maka keberadaan hutan di desa sakita harus tetap dijaga kelestariannya. Hutan yang masih alami di desa Sakita merupakan salah satu potensi wisata desa yang perlu dikembangkan dimasa mendatang. Selain itu, fungsi hutan dianggap sangat strategis. Seperti misalanya, fungsi  hydrologis bagi kawasan dibawahnya maupun sebagai kawasan konservasi tanah. Perlu menjadi catatan penting bahwa, sektor wisata di desa Sakita mengandalakan sumber daya air berupa dua sungai (Permandian Tompa Ika dan Air Terjun Mempueno). Maka keberadaan hutan khususnya disekitar Daerah Aliran Sungai mutlak untuk dijaga.
AIR TERJUN MEMPUENO
Selain potensi hutan pegunungan, Desa Sakita juga memiliki potensi air terjun yang memukau yaitu air terjun Mempueno. Dalam bahasa masyarakat setempat (bahasa Bungku) kata “Mempueno” bermakna “hembusan angin”. Kata  Mempueno diasumsikan sebagai bentuk rasa kagum pengunjung jika berada dibawah hembusan air terjun ini. Hempasan uap yang berasal dari derasnya aliran sungai yang jatuh ke bawah dari ketinggian akan menimbulkan hempasan angin yang menyejukkan. Angin dari hempasan air terjun inilah yang mereka maksud dari  kata “mempueno”.
Kontur Air Terjun Mempueno bertingkat-tingkat dengan belasan kolam-kolam yang alami. Formasi batu kapur membentuk tebing-tebing tinggi pada hilir sungai. Diperkirakan sepenjang ± 500 meter badan sungai ini dipenuhi formasi air terjun yang bertingkat-tingkat.  Setiap tingkatnya terdapat kolam alami dibawahnya yang bisa dijadikan permandian bagi pengunjung. Eksotisme air terjun ini semakin sempurna dengan naungan pepohonan disekitar sungai yang masih terjaga. Kealamiahan air terjun ini adalah nilai jual penting yang harus tetap dipertahankan dalam pengembangan kawasan ini sebagai daerah tujuan ekowisata kedepannya.
IMG_7146
Gambar 4. Keindahan Air Terjun Mempueno
Ditinjau dari aspek sejarah, keberadaan air terjun mempueno juga menyisihkan cerita rakyat yang populer. Legenda ini dikenal dengan nama “Rampea Sina”. Berdasarkan bahasa daerah setempat, Rampea berasal dari kata terampe yang berarti “tersangkut” dan Sina adalah nama orang. Munculnya cerita ini berawal ketika salah seorang gadis bernama Sina terseret arus dan terjatuh bersama derasnya aliran air terjun. Tubuh gadis ini tersangkut dan tenggelam tepat dingarai terjun ini. Konon menurut cerita, sampai sekarang jasad gadis ini tidak ditemukan.
IMG_7196
Gambar 5. Rampea Sina, legenda terdamparnya seorang putri bernama sina
Berdasarkan tragedi tersebut, masyarakat di Desa Sakita kemudian mengabadikan lokasi jatuhnya gadis tersebut dengan nama “Rampea Sina”. Untuk menemukan air terjun ini sangatlah mudah. Sebab posisinya yang terletak paling ujung dalam rangkaian formasi air terjun Mempueno. Jika Anda menelusuri sepanjang sungai ini, akan banyak ditemukan formasi air terjun bertigkat-tingkat. Rampe Sina terletak paling akhir sekaligus sebagai air terjun paling ujung dalam rangkaian formasi air terjun mempueno.
Air Terjun Mempueno menyimpan potensi wisata dengan keindahan alam yang masih terjaga kealamiahannya. Banyaknya undakan-undakan air terjun dengan belasan kolam-kolam alami tentunya menjadi daya tarik wisata yang sangat rugi jika tidak bisa dikelola dengan baik. Bila dibandingakn dengan air terjun Bantimurung (di kabupaten Maros) misalnya, keindahan air terjun mempueno masih jauh lebih unggul. Hanya saja belum terkelola dengan baik. Oleh karena itu, perlu adanya perencanaan yang tepat untuk mengembangkan Air terjun mempueno sebagai salah satu objek wisata unggulan di Kabupaten Morowali.
PERMANDIAN TOMPA IKA
Potensi ekowisata lainnya yang bisa di kembangkan di Desa Sakita adalah permandian Tompa Ika. Permandian ini termasuk dalam daftar salah satu objek wisata alam di Kabupaten Morowali. Hanya saja yang perlu dikoreksi adalah penulisan nama permandian ini. Banyak website yang menulis di internet dengan nama “Permandian Tumpukan”. Disalah satu buku resmi pemerinta yang berjudul “Profil Perekonomian Daerah 33 Propinsi” juga terdapat penulisan yang salah terkait permandian Tompa Ika. Bahkan di situs resmi Kabupaten Morowali juga terjadi kesalahan penulisan. Nama sebenarnya dari permandian ini adalah permandian Tompa Ika.
IMG_6495
Gambar 6. Permandian Tompa Ika
Tompa Ika menurut bahasa setempat berarti “ujung Ikan”. Pemberian nama ini berasal dari kebiasaan menyebut bagian-bagian kampung agar mudah dikenali. Tidak jelas siapa yang memberi nama ini pertama kalinya. Tetapi, berdasarkan penamaan istilah lokal ini, Desa Sakita terbagi atas tiga bagian utama yaitu : Kampu rombia (awal Kamung yang berbatasan dengan Kelurahan Mendui), kampu letonga (berada ditengah) dan Tompa Ika (berada paling Ujung). Karena posisi permandian ini terletak di daerah Tompa Ika, maka masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Permandian Tompa Ika.
Dibanding dengan Air terjun mempueno, permandian Tompa Ika lebih banyak dikunjungi wisatawan saat ini. Selain aksesnya yang dekat, permadian Tompa Ika juga memiliki potensi alam memukau. Disepanjang badan sungai banyak terdapat kolam-kolam alami dari formasi batu kapur yang unik. Airnya jernih, dekelilingi pepohonan yang rindang dan terjaga. Lokasi permandian juga berada tepat di kaki pegunungan fafontomundu. Perpaduan landscapepegunungan dan sejuknya udara pedesaan menjadi salah satu daya tarik wisata di tempat ini. Sayang, jika potensi besar ini tidak terkelola dengan baik.
PUING BENTENG FAFOLOBANI
Potensi wisata lainnya yang bisa dikembangkan adalah wisata sejarah. Keberadaan benteng Fafolobani di Desa ini dapat menjadi daya tarik wisata khususnya bagi wisatawan yang terarik dengan sejarah Bungku. Lokasi benteng ini terletak jauh dari pemukiman penduduk (Hutan pegunungan). Untuk bisa mencapai benteng ini, pengunjung diharuskan berjalan kaki menyusuri hutan pegunungan kurang lebih 4-5 jam dari Desa Sakita.
Benteng Fafo Lobani
Gambar 7. Benteng Fafo Lobani
Jika merujuk pada berbagai sumber data, informasi tentang keberadaan benteng Fafolobani hampir dipastikan tidak ada. Boleh dibilang Benteng Fafolobani adalah salah satu situs cagar budaya yang terlupakan. Bahkan Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Morowali Nomor 10 Tahun 2012, hanya terdapat 3 (tiga) kawasan cagar budaya yang diakui yaitu;  Kawasan cagar budaya mesjid tua Bungku, Kawasan cagar budaya raja Mori dan  Kawasan cagar budaya benteng fafontofure (Pasal 20 ayat 5). Pada hal, Benteng Fafolobani memiliki hubungan erat dengan benteng Fafontofure yang ada di Desa Bahotobungku.
Survei Benteng Fafolobani pada tang 21 Agustus 2013
Gambar 8. Survei kondisi Benteng Fafolobani pada tanggal  21 Agustus 2013
Hasil survei yang dilakukan Forum Mahasiswa Sakita (Formasi-Makassar) pada bulan Agustus 2013, kondisi benteng Fafolobani sangat memprihatinkan. Hampir seluruh dinding dari benteng ini telah terbongkar akibat tertimpa pohon dan hantaman akar-akar pohon yang masih hidup. Bahkan dibeberapa sisi benteng, kodisinya rusak parah. Sangat disayangkan jika situ sejarah ini diabaikan begitu saja tanpa upaya pelestarian yang serius dari berbagai pihak terkait.
Dalam aspek pariwisata, hutan yang terdapat disepanjang jalur menuju lokasi benteng dapat dimanfaatkan untuk kegiatan Tracking dan Hiking. Sebab, tidak menutup kemungkinan kedepannya akan banyak wisatawan yang suka berwisata petualang (adventure). Rute jalur yang ditawarkan dapat dimulai dari kampung menyusuri jalan setapak menuju air terjun mempueno. Dari situ, pengunjung akan diarahkan melewati perkebunan penduduk lokal, menyusuri hutan dan sungai sebelum mencapai puncak (lokasi benteng). Kegiatan ini tentunya dapat menjadi salah satu daya tarik wisata yang bisa dikembangkan di Desa Sakita.
***
Harus diakui bahwa potensi wisata di Desa Sakita belum termanfaatkan dengan baik. Hingga saat ini, belum ada upaya yang serius baik dari pemerintah maupun masyarakat setempat untuk mengembangkan potensi pariwisata di Desa ini. Sebut saja misalnya permandian Tompa Ika yang sering dikunjungi masyarakat sekarang ini. Komponen wisata seperti lembaga pengelola resmi, atraksi wisata, fasilitas wisata, transportasi kelokasi, promosi wisata dll, sama sekali masih jauh dari harapan. Padahal kompen-komponen wisata tersebut merupakan dasar utama dalam pengembangan pariwisata. Ditambah lagi kesadaran Masyarakat lokal dan pengunjung akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan masih sangat rendah.
Minimal, terdapat Tiga permasalahan utama menyebabkan lambannya pengembangan kegiatan wisata di Desa Sakita. Pertama, Aspek perencanaan yang belum matang berupa kebijakan pemerintah belum berjalan sebagaimana mestinya, koordinasi antar sektor tidak efektif, dan tata ruang pembangunan tidak mendukung pengelolaan objek wisata di Desa Sakita. Termasuk dalam hal ini seperti aspek kelembagaan, aspek hukum, aspek pengelolaan pengunjung dan penyediaan fasilitas pelayanan dan rekreasi yang memadai.  Kedua, aspek pelestarian lingkungan dan nilai budaya yang tergolong masih rendah seperti penebangan hutan di Daerah Aliran Sungai dan benteng yang dapat merusak nilai estetika dan kealamiahan objek wisata tersebut. Ketiga, keterlibatan masyarakat local sangat rendah yang menyebabkan kontribusi terhadap peningkatan ekonomi masyarakat setempat  juga sangat kurang.
Oleh karena itu, pengembangan dan pelaksanaan kepariwisataan di Desa ini harus diupayakan secara terencana, bertahap dan berkesinambungan melalui pengkajian secara cermat. Pelibatan stakeholder terkait mulai dari pemerintah kabupaten, pemerintah desa, pelaku usaha wisata dan masyarakat setempat mutlak diperlukan. Dengan pelibatan semua pihak, diharapkan nantinya dapat mendorong terbentuknya komitmen internal dari para pemangku kepentingan khususnya pemerintah Desa. Melalui komitmen bersama ini juga diharapkan legalitas dalam bentuk aturan-aturan desa yang menaungi keberlanjutan program pembangunan desa melalui sektor wisata dimasa yang akan datang.


ANAKKAMPUNGMOROWALI.WORDPRESS.COM
Yasir Sakita
Analyst of Marine and Fisheries at Central Management of Coastal Marine Resources of Makassar, Directorate General of Marine, Coastal and Small Island, Ministry of marine affairs and fisheries, Republic of Indonesia E-Mail : yasir.sakita@gmail.com, Twitter : @yashersakita


No comments:

Post a Comment